Monday, March 19, 2018

19.3.18

Hari yang berat bagiku.

Dewasa ini semakin kusadar pentingnya teman bicara.

Kukira kusuka kesendirian, ternyata aku hanya butuh waktu untuk sendiri, bukan selalu.

Kukira kukuat, kuberani, ternyata aku hanyalah sebuah nyawa yang disebutkan dalam do'a yang begitu dijabah.

Kukira kini kubaru mengenal diriku dan semakin kusadari kejamnya dunia, berbeda jika bersudut pandang fananya.

Kurasa Allah sedang ingin kulebih dekat padaNya hingga aku berharap aku benar nyata disampingNya.

Sunday, March 11, 2018

I am not ready

Kalo gue lagi rapih aja, ga ketemu wajah yang menyejukkan hati.
Giliran lagi nampil ngasal, malah ketemu yang kinclong.

Saturday, March 10, 2018

Seberapa kuat aku?

Aku bersedih untuk diriku. Bolehkah? Pun tiada yang mengasihani, tidak perlu, ada Dia.

Aku tidak suka teringat kepada yang seperti apa aku sempat menaruh hati, entah kenapa itu seperti menjadi S&K berlaku. Selalu saja tersentuh oleh mereka-mereka yang seperti itu, syukurlah yang dulu sudah berubah karena kurasa kutak mengenalnya lagi.

Semakin banyak jarak tempuh kakiku, semakin aku mengenal diriku hingga aku tak bisa menanganinya sendiri, hingga aku malu untuk mengungkapkan terhadap siapa aku menguatkan diri selain kepadaNya.

Kuberdo'a agar jauh dari hal-hal yang membolongi pertahananku, aku menyesal karena tak pandai bersyukur terhadap do'a yang benar terjadi.

Thursday, March 8, 2018

Mungkin Aku Iri

Belakangan ini seringkali kulihat mereka yang asik berdua, duduk bersama, tertawa bahagia, serasa dunia milik berdua.

Membuatku bertanya, bersama siapa aku bisa merasakannya?
Lemah imanku dibuatnya, ingin kutertawa sekedar berpura-pura bahwa hatiku baik-baik saja.

Kepadamu yang menjaga jiwa dan raga dari segala jenis goda, ketahuilah aku juga berusaha. *IYAIN AJA, OK.*

Saturday, January 20, 2018

Indomie

"Eh, sorry.." Seseorang berkemeja merah maroon membuatku merasa malu karena kurasa dia daritadi memperhatikan lamunanku dan kini mencoba menghentikannya. Kujawab dengan mata mengarah padanya. Imut sih.

"Sorry, gue Kiqi. Hm.." Kuhanya memperhatikannya bicara, tak ada selera untuk menyampaikan sesuatu. Pertama-tama kurasa dia ingin tahu namaku. Let him ask, now or never. Bukannya jual mahal, but it's not the right time.

"Nama?" Jarinya menunjuk padaku. Mungkin dia bingung harus pakek lu atau kamu. Sepertinya dia pandai bahasa isyarat. Kayaknya sih lagi booming.

"Kuqu."

"Kuqu? Masa? Kok mirip?" Dia imut dan polos, perfecto.

"Ya engga lah. Tata, nama gue."

"Sebelumnya gue mau minta maaf lagi."

"Sejahat itu ya lu? Baru kenal aja udah banyak salah."

"Hm, tadi gue denger apa yang disampaiin ke lu  di dalem." Seriously? Gue pengen lari pakai kekuatan si kilat kuning.

"Well, dan sekarang gue harap lu lupa sama semua yang lu denger tadi. Oke? Bye!" Terlewat batas polosnya jika dia berani menghampiri kulagi.

Friday, January 19, 2018

Teman Pagi

Kurang pas hangatnya teh pagi ini, mengurangi nikmat yang lupa kusyukuri.

Seperti rindu yang kubanggakan namun manfaatnya kulupakan. Kau tahu, rindu ini selalu saja hadir untuk mengingatkan bahwa ada yang harus kusampaikan. Tentu tidaklah dengan aku yang sama. Rindu ini membentukku. Terlepas dari apakah ada rasa yang tertinggal atau tidak, aku rindu.

Sejujurnya aku benci untuk selalu teringat masa-masa yang membawaku pada panggung ini. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang kulakukan disini. Aku lega mengetahui bahwa ada yang masih menyempatkan waktu membaca uraian-uraianku yang tak pernah benar-benar kusampaikan maknanya.

Tuesday, January 16, 2018